Berguru Kepada Lebah Madu

DALAM Al-Qur’an dijelaskan, lebah adalah satu-satunya binatang yang pernah menerima wahyu. Ia diperintahkan membuat sarang di bukit-bukit dan di pohon-pohon kayu untuk menetaskan karunia berupa madu. Dan, manusia pun disuruh berguru kepada lebah madu.

Retorika Al-Qur’an itu telah diuji kesahihannya oleh Ali Widi Baskhara (AWB) melalui buku ini. Dengan bahasa yang bernas, AWB membuka selubung misteri lebah serta menguak rahasia madu yang dihasilkannya, terutama untuk kesehatan dan kecantikan, hingga tandas.

Lebah madu yang tergolong dalam kelas insecta (serangga) itu merupakan koloni aristrokrat yang humanis. Betapa tidak, mereka hidup dalam sebuah struktur keluarga sosial yang besar dan senantiasa bekerja berdasarkan prinsip gotong royong. Ada ratu lebah, ada lebah pejantan, ada pula lebah pekerja. Meski bentuk morfologi dan fungsi biologisnya berbeda, namun perbedaan itu justru melahirkan ritme kehidupan yang harmonis sekaligus humanis.

Lebah pekerja, misalnya, mempunyai sifat yang agresif, sangat disiplin dalam bekerja, rajin serta tidak mengenal lelah dalam mencari makanan. lebah pekerja sanggup memikul makanan sebanyak lebih kurang dua kali berat tubuhnya. Lebah pekerja pula yang mencukupi makanan bagi lebah pejantan dan ratu lebah.

Lebah pejantan yang meski selalu minta “disuapi” makanan oleh lebah pekerja, namun tugasnya sebagai pengayom dan sesepun koloni lebah tidak diabaikan. Lebah pejantan adalah pelindung koloni lebah yang lemah, di samping tugas utama mengawini ratu lebah. Dari ratu lebah ini lahir ribuan butir telur saban hari sebagai cikal bakal generasi lebah. Dan, yang tak kalah penting adalah menghasilkan madu yang berkualitas. Begitulah koloni lebah madu. Mereka hidup dalam keteraturan, ritme kerja yang menjunjung tinggi kolektivitas, dan mendaraskan asas manfaat dari madu yang dihasilkan. (hal. 29-41).

Madu sebagai produksi utama lebah memang penuh keajaiban. Cairan kental itu diproduksi melalui proses fermentasi dari nektar bunga di saluran pencernaan lebah madu. Nektar inilah yang menjadi sumber karbohidrat serta mengandung nutrisi yang sangat komplet seperti multivitamin, mineral, gula invert, dan enzim.

Kendati demikian, proses produksi madu ternyata cukup rumit. Nektar sebagai bahan dasar utama harus dicerap dari saripati bunga yang masih perawan. Dengan komando lebah pemandu, lebah pekerja bergerilya hingga radius 2,5 km – 6 km dari sarangnya. Mereka takkan tersesat sebab hormon feromon yang dikeluarkan oleh ratu lebah akan memandu pulang kembali ke sarang. Dan, ajaibnya, untuk menghasilkan 100 gram madu, lebah harus mendatangi tak kurang dari sejuta tangkai bunga. Subhanallah!

AWB melalui buku ini bukan saja berhasil menelusuri bagaimana rumitnya proses pembentukan madu, tetapi juga memetakan jenis-jenis lebah madu di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, sekaligus memaparkan pola kerja dan siklus hidupnya. Misalnya, apis dorsatan yang hidup di kawasan hutan tropis Asia. Jenis lebah ini sulit dibudidayakan sebab hidup menggerombol di atas pohon tinggi dalam hutan yang tersebar di hutan-hutan Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Timor Timur. Madu apis dorsatan tergolong kualitas prima sebab dihasilkan secara alami (hal. 6-8).

Selain itu, uraian penjelasan yang komprehensif tentang manfaat madu seperti mencegah amputasi pada penyakit diabetis, membunuh kuman-kuman akibat infeksi penyakit, dan menurunkan kadar gula bagi penderita kencing manis, membuktikan madu sebagai obat alternatif dari perspektif obat kimiawi medis. Paparan fenomenal AWB sekaligus menjadi kontribusi konkret buku ini adalah kiat-kiat strategis untuk mengenali gejala madu palsu yang kini kiat marak di pasaran di mana hal itu justru telah menurunkan kualitas madu.

Lewat buku ini, di samping kita diajak untuk menghikmati kehidupan lebah, juga dibimbing untuk menjalani laku kehidupan yang sehat dengan memanfaatkan madu. Maka dari itu, kehadiran buku ini layak disambut dengan bentuk apresiasi yang tinggi. []

Judul Buku : Khasiat & Keajaiban Madu untuk Kesehatan dan Kecantikan
Penulis : Ali Widi Baskhara
Penerbit : Smile-Books, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, April 2008
Tebal : 164 halaman

*) Saiful Amin Ghofur, Kerani Taman Bacaan Matahati Krapyak Yogyakarta

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s