Anak dan Epidemi Naruto

TAYANGAN televisi kembali memakan korban. Seorang anak usia 10 tahun di Semarang diberitakan tewas beberapa waktu lalu setelah terlibat permainan perang-perangan dengan kawan sebayanya. Setelah diusut, ternyata permainan tersebut terinspirasi oleh film kartun bernuansa kekerasan, Naruto, yang gencar ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi swasta saban hari.

Peristiwa ini kian menegaskan genta kematian humanisme televisi. Jika diteroka secara saksama, kita akan menemukan fakta bahwa sebagian besar tayangan televisi yang disuguhkan kepada anak justru menimbulkan efek negatif bagi perkembangan kepribadian anak.

Epidemi Naruto

Film kartun Naruto sebenarnya bukan satu-satunya tayangan anak yang patut disikapi dengan kritis. Ada sejumlah sinetron anak, misalnya Si Entong (TPI) dan Eneng dan Kaos Kaki Ajaib (RCTI), yang mengusung cerita keajaiban dan, karena itu, membonsai logika berpikir anak. Dengan serbuan cerita keajaiban, anak terdidik untuk mengangsur solusi permasalahan secara instan, tanpa perlu serius terhadap sebuah proses.

Hanya saja, film kartun Naruto menjelma sebagai epidemi yang menggurita dalam kehidupan anak. Betapa tidak, film ini ditayangkan tiga kali sehari pada waktu efektif: pagi dan malam selepas Magrib. Dan, pada Minggu atau hari libur bisa sampai lima kali. Tidak berhenti sampai di situ, kini pernak-pernik ornamen yang lazim digunakan dalam film itu begitu mudah dijumpai. Mulai dari ikat kepala hingga peralatan sekolah bergambar Naruto dijual dengan harga yang ramah bagi kantong masyarakat kita.

Tak ayal, nuansa kekerasan yang dijejalkan kepada anak melalui film tersebut dan dilengkapi dengan aksesoris yang dimudah didapat, akan menggiring anak untuk mengadaptasikan apa yang dilihatnya dalam kehidupan nyata. Maka, penelitian Baron (2002) menemukan relevansinya. Menurut Baron, anak yang aktif menyaksikan tayangan televisi dengan sisipan adegan-adegan kekerasan cenderung ingin melakukan hal serupa kepada temannya, dibanding anak yang menonton program netral alias tidak mengandung unsur-unsur kekerasan.

Hal inilah yang jarang kita insafi. Acapkali kita membiarkan anak berjibaku dengan televisi di tengah kesibukan kerja yang menggunung tanpa memedulikan dampak tontonan tersebut terhadap anak. Padahal Dimitri Christakis dalam The Elephant in The Living Room: Make Television Work for Your Kids (2000) menegaskan, ternyata madarat televisi lebih banyak ketimbang manfaatnya.

Psikolog dan pengamat televisi yang juga dokter spesialis anak itu menyodorkan tesis bahwa kebanyakan orangtua salah duga tentang makna program televisi bagi pemirsa. Semula diduga, kecenderungan orangtua mengajak anak menonton televisi adalah untuk menyenangkan anak. “But in fact what we found was that the number 1 reason they give is that it’s good for their children’s brain,” tulisnya. Dan, persepsi tayangan televisi yang mencerdaskan tak lebih sekadar ilusi ketimbang realitas.

Kecemasan Dimitri tersebut menggenapi kegelisahan Keith Tester sejak setengah abad silam. Dalam Media, Culture, and Morality (1998) ia menghunjamkan tesis bahwa televisi di negara-negara Barat telah kehilangan nilai humanisme ketika terlalu mengedepankan prinsip kesenangan (pleasure principle) dan orientasi keuntungan dan hiburan (profit and entertainment oriented).

Tesis ini juga menjungkirbalikkan misi edukasi dalam tayangan anak tersebut. Bahwa televisi sebagai media yang cukup efektif untuk menanamkan nilai-nilai edukatif telah diamini oleh banyak pakar pendidikan. Tayangan televisi akan melekat dalam kepribadian anak sekaligus merangsang anak untuk menirunya (Ghofur, 2007).

Komitmen Bersama

Menyingkirkan televisi dari ruang kehidupan anak bisa jadi sama susahnya dengan mencari jarum di atas tumpukan jerami. Karena itu, setidaknya ada dua agenda yang mesti dipancangkan. Pertama, agenda internal. Agenda ini terkait langsung dengan eksistensi keluarga guna membangun konsensus yang harus dipatuhi bersama.

Kita perlu mendampingi dan memberi penjelasan kepada anak saat menonton televisi. Maksudnya, jika anak bertanya, jawaban harus diberikan secara rinci sesuai dengan tahap perkembangan anak. Banyak hal yang belum diketahui anak. Jika tidak ada penjelasan (terutama), ia terdorong untuk mencari sendiri dengan mencoba-coba dan meniru dari orang dewasa. Anak tak pernah mengerti apakah hasil pencariannya itu benar atau salah. Di sinilah tugas orangtua memberi penjelasan berkelanjutan kepada anak mesti ditingkatkan.

Jadwal kegiatan anak perlu disusun. Anak hendaknya dibiasakan mengerti bahwa ada waktu tersendiri untuk berbagai kegiatannya, misalnya kapan belajar, kapan bermain dan kapan menonton televisi. Kendati anak merasa rileks ketika menonton televisi namun ia tetap butuh waktu bermain. Televisi mengondisikan anak menjadi pasif, hanya menerima dan menyerap informasi dengan posisi tubuh yang juga pasif (cukup dengan duduk atau ringkasnya tidak banyak bergerak).

Karena itu anak tetap perlu waktu bermain terutama dengan anak-anak sebaya lain. Sekurang-kurangnya agar anak tetap aktif dan mampu bersosialisasi. Jatah berlari-larian, bersenda gurau dengan teman atau bermain dengan mainan perlu diberikan kepada anak. Penjadwalan waktu kegiatan anak juga memudahkan orangtua dalam mendampingi anak saat menonton televisi.

Jikapun tak sempat mendampingi anak menonton televisi karena kegiatan yang padat, sebaiknya kita bisa menyeleksi mana tayangan yang cocok dan mana yang tidak cocok bagi anak. Untuk itu, kita harus terlebih dahulu menonton tayangan tersebut dan mengadakan evaluasi secara kritis.

Kerjasama seluruh anggota keluarga patut dibina. Dalam keluarga, kesamaan persepsi mengenai anak dan masalah televisi harus dipertemukan. Seluruh anggota keluarga mesti menyadari untuk berpartisipasi aktif demi membangun kepribadian dan mentalitas anak yang positif melalui televisi.

Kedua, agenda eksternal. Agenda ini bisa ditempuh melalui institusi pendidikan. Kurikulum pendidikan yang berlaku saat ini memberi peluang yang lempang bagi praktisi pendidikan untuk berimprovisasi, termasuk dalam hal materi pendidikan muatan lokal.

Untuk itu, perlu alokasi waktu khusus untuk mendiskusikan tayangan sinetron anak. Setiap anak layak diberi kesempatan untuk mempresentasikan apa yang ditontonnya sesuai kadar pemahaman masing-masing. Baru kemudian anak ditunjukkan nilai positif dan negatif yang terkandung dalam sinetron anak tersebut. Dengan cara ini, aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik anak dapat diberdayakan secara maksimal, sehingga dengan sendirinya anak akan menentukan sikap yang terbaik dalam menapaki kehidupan kesehariannya. []

*) Saiful Amin Ghofur, Pemerhati Pendidikan, tinggal di Krapyak Yogyakarta

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s