Al-Jashshash

NAMA lengkap al-Jashshash adalah Abu Bakar Ahmad bin ‘Ali al-Razi, namun lebih populer dengan nama al-Jashshash sebab dinisbatkan pada profesinya sebagai al-Jashsh (tukang kapur). Lahir di Baghdad pada tahun 305 H dan wafat pada tanggal 7 Dzulhijjah 370 H. Selain tumbuh dalam keluarga yang taat beragama, ia juga diuntungkan sejarah sebab hidup pada masa pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan.

Masa muda al-Jashshash disibukkan dengan aktivitas menuntut ilmu ke berbagai daerah di mana terdapat ulama terkemuka. Kepada Abu Sahal az-Zujaj dan Abu al-Hasan al-Karakhi, ia menekuni ilmu fikih. Lalu atas sarah al-Karakhi ia merantau ke Naisabur untuk berguru kepada Hakim an-Naisaburi. Ketika al-Karakhi meninggal dunia pada tahun 344 H, ia kembali lagi ke Bagdad.

Sejak saat itu, al-Jashshash menetap di Irak. Pernah ia ditawari menjadi qadi, namun jabatan itu ditolak. Ia lebih memilih jalur keilmuan untuk menyebarluaskan ilmu yang dimilikinya. Ternyata pilihannya tak keliru. Berkat kegigihannya lahirlah sejumlah pakar fikih, antara lain Muhammad Yahya al-Jurjani dan Abu Hasan az-Za’farani.

Tafsir Corak Fikih

Al-Jashshash mengabdikan sepenuh hidupnya untuk aktivitas keilmuan serta menulis kitab. Karena latar belakang keilmuannya lebih didominasi oleh ilmu fikih, ia lantas menulis tafsir Al-Qur’an bercorak fikih, yaitu tafsir Ahkâm Al-Qur’ân. Kendati demikian, ia juga menulis beberapa kitab lain, seperti Syarh Mukhtasar al-Karakhi, Syarh Mukhtasar at-Thahawi, Syarh al-Jamî’ lî Muhammad ibn al-Hasan, Syarh al-Asmâ’ al-Husnâ, Adab al-Qadâ, dan Jawâbât al-Masâil Waradat ‘Alaihi.

Tafsir Ahkâm Al-Qur’ân yang berjumlah 5 jilid merupakan salah satu kitab tafsir penting di antara kitab-kitab tafsir yang berhaluan fiqh Hanafi. Kesimpulan ini dipertegas oleh fakta bahwa tafsir tersebut sangat mengagungkan dan membela Mazhab Hanafi. Terbit pertama kali pada tahun 1985 oleh Penerbit Dar Ihya at-Turas al-Arabi (Beirut).

Al-Jashshash menafsirkan semua surah Al-Qur’an sebatas ayat-ayat yang berkaitan dengan hukum fikih. Kendati mengikuti alur urutan surah-surah Al-Qur’an, kitab ini juga disistematisasi berdasarkan bab-bab fiqh. Setiap babnya diberikan judul sesuai dengan masalah yang ada di dalam ayat tersebut berdasarkan pandangan al-Jashshash. Penjelasannya tidak berusaha mengambil kesimpulan hukum dari ayat-ayat, tetapi lebih cenderung mengangkat problematika fikih dan perbedaan pendapat antarulama.

Tafsir Ahkâm Al-Qur’ân juga mengupas ayat-ayat yang berkenaan dengan teologi. Hanya saja, penjelasannya cenderung memperkuat pendapat kalangan Mu’tazilah. Wajarlah, sebab al-Jashshash adalah seorang yang fanatik dengan mazhab teologi Mu’tazilah—sebagaimana ditulis dalam pengantar Tafsir Ahkâm Al-Qur’ân. Dalam menafsirkan, ia merujuk kepada riwayat dari Nabi Muhammad, para sahabat, dan para tabi’in, serta pendapat ahli fikih dari kalangan Mazhab Hanafi. []

Sumber: Saiful Amin Ghofur, Profil Para Mufasir Al-Qur’an, (Yogyakarta: Insan Madani, 2007)

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s