Al-Qur’an Tak Lekang oleh Zaman

ABDULLAH Darraz pernah menyatakan dalam an-Naba’ al-‘Azim, “Al-Qur’an bagai intan yang setiap sudutnya memancarkan cahaya yang berbeda dengan apa yang terpancar dari sudut-sudut yang lain. Tidak mustahil jika kita mempersilakan orang lain memandangnya maka ia akan melihat lebih banyak dari apa yang kita lihat.”

Sungguh elok dan tepat pernyataan Abdullah Darraz. Elok, karena ia menyerupakan Al-Qur’an dengan intan permata yang setiap sudutnya memancarkan cahaya. Tepat, karena ia melihat bahwa Al-Qur’an memang kitab yang tak pernah berhenti memancarkan pesan yang berkilauan. Setiap orang bisa menyerap pesan tersebut, tergantung kebutuhannya.

Metafora Al-Qur’an dengan intan permata menunjukkan bahwa setiap muslim mestinya menikmati pesona Al-Qur’an yang sangat menawan. Sebab, Al-Qur’an laksana intan permata. Siapa yang tidak suka pada intan permata? Semua orang pasti menyenanginya. Ini naluriah. Kemilaunya membuat orang terbius dan takjub.

Lebih dari itu, kilau Al-Qur’an yang menyejukkan mata ternyata tidak tunggal. Ada banyak kilau di sana. Begitu pula makna yang terkandung dalam Al-Qur’an. Kitab suci ini tidak hanya mengandung satu pesan. Ada banyak pesan. Sekali kita membaca Al-Qur’an, ada satu pesan yang dapat kita tangkap. Tetapi, ketika menatapnya di lain waktu, ada pesan-pesan lain yang terpancar. Dalam kesempatan lain, ketika kita membacanya, kembali ada pesan baru yang terkuak, berbeda dengan pesan yang selama ini kita pahami. Apa yang kita lihat mungkin tidak sama dengan apa yang dilihat oleh orang lain.Itulah wujud kehebatan Al-Qur’an.

Dari semenjak diturunkan, Al-Qur’an hanya satu. Tidak sebagaimana kitab suci lain yang memiliki beberapa versi, Al-Qur’an hanya punya satu versi.Al-Qur’an yang dibaca di zaman Nabi dengan masa sekarang sama. Kitab Al-Qur’an yang dikaji pada zaman para khalifah dan salaf saleh sama dengan yang kita pelajari hari ini. Akan tetapi yang sungguh menakjubkan, ada ratusan bahkan ribuan kitab tafsir yang dihasilkan dari kitab suci Al-Qur’an. Masing-masing mufasir melihat “cahaya” yang berbeda dari yang dipandang mufasir lain. Pesan yang ditampilkan oleh Al-Qur’an pada seorang mufasir berbeda dengan mufasir lain. Walhasil, tafsir Al-Qur’an pun beragam.

Kegiatan menafsirkan Al-Qur’an sudah berlangsung sejak masa Rasulullah saw. Beliau adalah manusia pertama yang menafsirkan Al-Qur’an. Dilanjutkan oleh para sahabat, tabiin, pengikut tabiin, hingga imam mazhab. Para ulama pasca-imam mazhab pun tak mau kalah untuk menikmati kencatikan “cahaya” Al-Qur’an. Mereka pun melahirkan kitab-kitab tafsir. Para ulama di masa modern pun tak ketinggalan untuk merasakan hangat “cahaya” Al-Qur’an.

Beragam metode penafsiran telah digagas oleh para mufasir. Aneka corak penafsiran pun bermunculan. Perspektif keilmuan para mufasir yang majemuk merupakan bekal utama untuk menggali “harta karun” yang terpendam dalam Kitab Suci. Sungguh mengherankan, “harta karun” Al-Qur’an seolah tak pernah habis walaupun telah digali selama berabad-abad. Bahkan, mungkin aktivitas “penggalian” ini akan berlanjut hingga Hari Akhir.

Buku yang ditulis oleh Saiful Amin Ghofur ini merupakan rekaman kegiatan para mufasir yang berupaya menimba pesan-pesan agung Al-Qur’an. Ia menelusuri kegiatan tafsir dari masa Nabi Muhammad hingga masa modern. Ia membagi aktivitas penafsiran Al-Qur’an menjadi tiga periode: periode klasik, pertengahan, dan modern. Ulama yang lahir pada masing-masing periode telah berjasa besar terhadap penggalian makna Al-Qur’an. Khazanah penafsiran yang mereka wariskan merupakan kekayaan yang sangat berharga bagi umat Islam di masa selanjutnya. Karena itu, sayang sekali bila harus dilewatkan dan tidak diapresiasi.

Melalui penelaahan yang jeli, Saiful Amin berhasil menggolongkan setiap mufasir berdasar periodenya. Tidak hanya itu, ia juga membuat kategorisasi corak penafsiran para ulama tersebut. Dengan begitu, kita dapat memahami trade mark masing-masing mufasir. Dengan keragaman trade mark, berarti makin kayalah dunia penafsiran Al-Qur’an.

Keunggulan buku ini dibanding buku semisal adalah adanya foto-foto kitab tafsir yang menghiasi beberapa bagian buku. Diharapkan, pembaca dapat melihat wujud produk para mufasir di masa lampau. Selanjutnya, tergerak untuk menghasilkan produk serupa. Dengan demikian, aktivitas penggalian “harta karun” Al-Qur’an tak pernah lengkang oleh zaman.

Di atas itu semua, Al-Qur’an adalah surat cinta dari Sang Khalik kepada makhluk. Melalui surat tersebut, Khalik menyatakan kasih sayang-Nya yang mendalam. Makhluk yang beriman pasti dapat merasakan kasih sayang-Nya yang begitu menggelora. Betapa Ia yang Mahaagung, “mendikte” sendiri surat tersebut agar dibaca oleh makhluk yang dicintai-Nya. Sungguh, hanya orang yang telah tertutup hatinya saja yang tidak tersentuh oleh embusan cinta Ilahi ini. []

Judul Buku : Profil Para Mufasir Al-Qur’an
Pengarang : Saiful Amin Ghofur
Penerbit : Insan Madani, 2007
Halaman : 256 hlm.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s