Tegar

FAJAR hari Minggu (5/7) belum lagi runtuh didesak subuh kala Endy Tegar Kurniadinata merangkak menjauhi bantalan rel di belakang rumahnya di Dusun Rubahan Desa Mejayan Kecamatan Mejayan Kabupaten Madiun. Kaki kanannya terpenggal sebatas lutut setelah dilindaskan Puryanto, ayahnya, ke roda besi kereta api. Dengan menahan sakit luar biasa berbaur tangis yang meronta, bocah 3 tahun itu menapak jalan setapak berjarak sepelemparan batu menuju rumahnya. Sukidi, kakek Tegar, tergeragap, terbangun mendengar rintihan pilu cucunya, “Mbah, sikilku copot ditabrak kereta”. Astaga!

Tragedi yang menimpa Tegar sungguh menyesakkan dada. Peristiwa itu telah menorehkan selarit luka dalam kehidupannya. Tegar yang semula periang, ceria, dan gemar mengumbar tawa lantas menjadi bocah pendiam seperti menyulam pedih yang kelam. Cita-cita menjadi tentara pun terhenti sebatas angan dan tertimbun dalam kenangan.

Tegar adalah korban kisruh berantai rumah tangga orangtuanya. Defi Kristiani dinikahi Puryanto di Lampung 5 tahun silam dalam keadaan bunting. Ia tengah mengandung Tegar yang nota bene bukan benih cinta Puryanto. Dus, faktor ekonomi yang segendang sepenarian ternyata turut andil melarungkan keharmonisan keluarga miskin itu. Hasil keringat Puryanto selaku penjaja irama sumbang alias pengamen tak mampu melabuhkan kebahagiaan. Dan, kehidupan keluarga itu pun digandrungi pertengkaran hingga akhirnya Tegar menjadi tumbal.

Frustasi-Agresi

AH Buss dalam The Psychology of Aggression (1961) menggelindingkan tesis menarik. Bahwa manusia kerap dilanda frustasi ketika terjadi konflik kepentingan dalam dirinya di satu sisi dengan realitas faktual yang serba dominan di sisi lain. Keinginan dan harapan yang tertanam kuat dalam alam bawah kesadaran mentalnya berbanding terbalik dengan kenyataan. Manusia yang memiliki posisi tawar lemah dengan situasi mikro dan makro demikian acapkali dirundung kegelisahan eksistensi.

Frustasi dan kegelisahan eksistensi inilah yang melahirkan perilaku agresif. Sebuah tipologi perilaku antagonistis yang cenderung anomalis-destruktif. Perilaku agresif bisa dipersepsikan serupa ledakan bom di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton 17 Juli lalu yang menimbulkan efek traumatis bagi masyarakat. Di sinilah teori frustasi-agresi yang ditabalkan J. Dollard dalam Frustration and Aggression (1939) menemukan relevansinya.

Tragedi Tegar bisa kita pahami dari perspektif teori frustasi-agresi ini. Tegar adalah korban dari efek berantai perilaku frustasi-agresi. Puryanto sendiri adalah simbol elementer dari seluruh kepribadian masyarakat yang terbelah. Pribadi yang kalah dan pasrah sebab tergerus oleh siklus problematika hidup yang senantiasa berdenyut menguntit detak irama waktu.

Kekerasan yang dilakukan Puryanto terhadap Tegar memiliki peluang tergandakan secara derivatif di waktu dan tempat lain selama masih ada orang yang frustasi-agresif. Betapa tidak, tuntutan dan kebutuhan hidup di zaman modern kian meningkat. Bila tak terpenuhi karena faktor rendahnya kualitas sumberdaya manusia, kemungkinan besar timbul perilaku destruktif. Berapa banyak kasus pembunuhan, misalnya, dilatarbelakangi alasan kebutuhan materi. Sejumlah peristiwa anomali sosial pun setali tiga uang, dipicu hal serupa.

Inilah penyakit manusia modern. Ibarat menggunting dalam lipatan, manusia yang bebas berbuat sekaligus abai terhadap pertimbangan nurani dan akal budi. C. Wright Mills dalam Kematian Manusia Modern (2000) menyebutnya dengan kebebasan tanpa nalar (freedom without reason). Manusia modern, demikian Mills, mengekspresikan cara-cara tertentu untuk memahami sesuatu seraya mencela penilaian rasional, meninggalkan moralitas berikut segenap batasan-batasannya, dan merayakan afirmasi hidup dengan insting, impulsif, dan spontanitas yang menjauhi kapasitas kognitif.

Kecerdasan Emosi

Tragedi Tegar mengirimkan sinyal kepada kita bahwa hidup di dunia modern ini penuh ketakterdugaan. Betapa gampangnya seorang ayah menghancurkan masa depan anaknya sendiri hanya gara-gara bertekuk lutut pada kuasa emosi. Anak yang semestinya menjadi kebanggaan keluarga terdapuk dalam gamang dan masa depan yang remang-remang.

Memamg, emosi kerap membuat orang gelap mata hingga alur berpikirnya berpaling dari logika. Tak waras. Karena itu, wajar bila Muhammad sang Nabi dalam seutas hadisnya mewanti-wanti umatnya agar tidak mengambil keputusan saat dalam kondisi terkekang emosi. Emosi yang meluap bakal menciptakan gelombang amarah. Sedangkan amarah hampir pasti meradang mengobarkan keonaran (Al-Qur’an, 12: 53).

Emosi, seturut Daniel Goleman dalam Emotional Intelligence (1995), dimaknai sebagai setiap tindakan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu, dan keadaan mental yang meluap-luap. Dalam kaitan ini, Goleman menunjukkan bukti bahwa emosi memainkan peranan penting dalam pola berpikir dan tingkah laku individu.

Karena itu, diperlukan sebuah usaha keras untuk mengelola emosi dalam bingkai kecerdasan yang cakap. Dalam konteks ini, Claude Steiner dalam Achieving Emotional Literacy (1997) membabarkan serangkum langkah paradigmatik untuk mengembangkan kecerdasan emosi. Pertama, membuka hati. Hati adalah pusat emosi di mana di dalamnya beraduk senyampang perasaan: bahagian, cinta, kasih, sedih, benci, bahkan patah hati. Dengan membuka hati, kita berupaya membebaskan pusat perasaan dari impuls dan pengaruh yang membatasi berbuat kebajikan.

Kedua, menjelajah dataran emosi. Artinya, pelan-pelan kita melatih kepekaan untuk mengetahui apa yang dirasakan, seberapa kuat, dan apa alasannya. Kita dituntun untuk mulai memahami bagaimana emosi berinteraksi dan terkadang menciptakan gelombang perasaan yang menghantam diri sendiri dan orang lain. Dengan begitu, kita menjadi lebih bijak menanggapi perasaan antarsesama.

Ketiga, mengambil tanggung jawab. Untuk meruntuhkan kuasa emosi, kita mesti belajar menebalkan tanggung jawab. Ketika terjadi kerusakan dalam ranah relasi sosial, kita perlu bersegera mengevaluasi diri, mengakui kesalahan, membuat perbaikan, serta memutuskan segala sesuatu yang terbaik untuk merajut harmoni sosial yang tercabik.

Dengan mengoptimalkan kecerdasan emosi secara bertahap kita beranjak menuju kehidupan yang lebih bermakna. Stephen R. Covey dalam The Seven Habits of Highly Effective People (1995) menyebutnya dengan kemenangan pribadi dan kemenangan publik. Sehingga, betapapun rumit dan sulitnya problematika hidup yang tengah menerjang kita akan terhindar dari frustasi-agresif, takkan bertindak ceroboh dan destruktif. Setidaknya, kita tetap tegar. Ya, tegar seperti Tegar. []

*) Saiful Amin Ghofur, Guru Luar Biasa PP. Roudlotun Nasyi’in Beratkulon Mojokerto.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s