Meretas Teologi Ramah Lingkungan

BANJIR besar yang melanda Jakarta kali ini disebut-sebut sebagai banjir terbesar sepanjang sejarah musibah banjir yang menjadi langganan ibukota negara ini. Tentu kita berharap banjir ini adalah antiklimaks serentetan musibah yang melanda negeri ini.

Namun kita perlu tahu kenapa alam tiba-tiba murka? Tentu ada faktor lain yang menyulut kemarahan alam. Namun terkadang kita “mengambinghitamkan” Tuhan dengan tergesa-gesa menarik kesimpulan bahwa terjadinya bencana memang sudah ditakdirkan. Padahal, terjadinya bencana merupakan indikasi nyata bahwa ada yang keliru dalam relasi sinergis antara alam dan manusia. Perbuatan manusia telah mengusik dan merusak keteraturan ekosistem. Kerusakan alam yang ditimbulkan oleh manusia bersumber dari cara pandang manusia terhadap alam.

Memang, konstruksi sejarah paling purba diawali dengan tabiat perusak dalam diri manusia. Tengoklah kisah Nabi Adam. Ihwal keluarnya dari surga tak lain karena Adam lancang memetik buah khuldi. Larangan Tuhan diabaikan. Adam telah mengacaukan sistem yang berakibat fatal terhadap dirinya sendiri. Sehingga ia harus menanggung derita panjang dengan terpental dari surga yang penuh kenikmatan (lihat Q.S. 2: 35, 7: 19-22, dan 20: 120-121).

Sepotong kisah yang dinarasikan doktrin agama Islam itu merupakan satu indikasi penting bahwa pada dasarnya Islam menaruh kepedulian tinggi terhadap relasi sinergis manusia dan alam lingkungan. Tuhan menyebut alam lingkungan sebagai nikmat besar yang diberikan-Nya untuk manusia agar dapat dimanfaatkan secara benar. Dalam Q.S. 45: 13 dijelaskan, “Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi, semuanya berasal dari-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”

Dengan demikian, manusia yang tak lain adalah duta Tuhan (khalifatullah) di muka bumi memiliki kemampuan dan kesempatan untuk memanfaatkan alam semesta bagi kehidupannya. Namun sayangnya, potensi itu terkadang cenderung digerakkan motif-motif destruktif dengan mengabaikan keseimbangan alam. Alam dipandang sebagai komoditas yang sangat menguntungkan sehingga bebas mengekploitasi alam habis-habisan.

Karena itu, sangat beralasan jika Islam menuduh manusia sebagai biang kerok kerusakan alam di muka bumi ini. Disebutkan dalam Q.S. 30: 41,  “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut yang disebabkan oleh perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki supaya mereka merasakan sebagian dari perilaku mereka itu supaya mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Ayat ini menunjukkan bahwa kerusakan alam lingkungan pada akhirnya akan memberi dampak buruk kepada kita sendiri. Akibat perlakuan ini telah menghampar di depan kita, yakni bencana alam, seperti banjir dan tanah longsor, yang menggedor berbagai daerah di Indonesia.

Jika kita menelisik lebih detail, penyebab terjadinya bencana alam tersebut adalah perilaku brutal manusia terutama penebangan hutan liar (illegal logging) di ambang batas kewajaran demi mengeruk keuntungan ekonomi semata. Padahal, Islam jelas-jelas melarang hal ini. Islam telah mengajarkan kepada kita agar melindungi pepohonan. Di satu sisi, Islam menyeru kita agar gemar menanam pepohonan (reboisasi), dan di sisi lain, Islam juga mengecam praktik penebangan pohon yang tak bertanggung jawab.

Hal ini jelas tercermin dalam ungkapan Nabi, “Siapa saja yang menanam sebuah pohon, dan pohon itu berbuah, Allah akan memberikan pahala kepada orang itu sebanyak buah yang tumbuh dari pohon tersebut.” Juga ungkapan yang lain, “Janganlah kalian memotong pohon buah karena Allah akan menurunkan azab kepada kalian.”

Teologi Ramah Lingkungan

Mengapa persoalan lingkungan kurang menarik perhatian umat Islam secara umum? Memang, tak mudah menjawabnya secara pasti. Namun, disinyalir bahwa wawasan teologi yang berkembang selama ini lebih menitikberatkan urusan eskatologis (akhirat) ketimbang masalah keduniaan bisa diajukan sebagai kerangka jawabnya.

Wawasan teologi umat Islam memandang masalah ibadah hanyalah yang berhubungan dengan ruang privat (bukan ruang publik). Bahwa pahala-dosa adalah berkaitan moralitas individual (bukan moralitas sosial). Bahwa ibadah yang wajib hanyalah yang berkenaan dengan ritual-individual (bukan sosial-komunal), dan seterusnya.

Frame teologi seperti inilah yang kuat mencengkeram alam berpikir sebagian besar umat Islam. Wawasan teologi yang tidak proporsional ini jelas-jelas bertabrakan dengan spirit Islam yang mengklaim dirinya sebagai rahmatan lil ‘alamin. Klaim itu sendiri sebenarnya mencakup tidak hanya manusia, tetapi juga alam lingkungan.

Sayang sekali, klaim rahmatan lil ‘alamin ini belum sepenuhnya merasuk dalam, meminjam istilah Hosen Nasr, living tradition umat Islam. Hal ini diperparah lagi dengan tidak terakomodirnya masalah lingkungan sebagai bagian dari tujuan syariat Islam (maqashid asy-syari’ah).

Sebagai contoh, asy-Syatibi dalam al-Muwafaqat merumuskan maqashid asy-syari’ah menjadi lima hal, yaitu memelihara agama ( hifdz ad-din), menjaga jiwa (hifdz an-nafs), memelihara akal (hifdz al-‘aql), memelihara harta (hifdz al-mal), dan memelihara keturunan (hifdz al-nasl).

Pendapat tersebut terus-menerus dijadikan sebagai pegangan dalam berijtihad untuk memecahkan masalah sosial-kemanusiaan. Sementara masalah lingkungan luput dari perhatian ulama fikih dan kebanyakan umat Islam. Mungkin hanya Yusuf Qardlawi dalam Ri’ayatu al-Bi’ah fi asy-Syari’ati al-Islamiyyah yang menjadikan pemeliharaan lingkungan (hifdz al-‘alam) sebagai bagian dari maqashid asy-syari’ah. Itupun sangat tidak populer bahkan dianggap kontraproduktif.

Oleh sebab itulah, menumbuhkan dan mengembangkan wawasan teologis berbasis kesadaran lingkungan mutlak diperlukan. Dalam konteks ini, para tokoh agama terutama ulama fikih harus berani melakukan terobosan penting mengenai pemahaman teologi keislaman yang ramah lingkungan digali langsung dari teks-teks otoritatif baik Al-Quran maupun hadis.

Kendati demikian, upaya serius itu hanya bertepuk sebelah tangan jika tidak diamini oleh kebijakan pemerintah. Sudah saatnya pemerintah menelorkan kebijakan-kebijakan dalam berbagai dimensi kehidupan bernegara yang pro-lingkungan. Untuk merealisasikannya bisa ditempuh, misalnya, membebani hukuman bagi para koruptor dengan kewajiban melakukan gerakan penghijauan di area hutan yang gersang. [*]

*) Penulis adalah Saiful Amin Ghofur, Peneliti Institute on Green Religion and Culture (IGReC) MSI UII Yogyakarta.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s