Kacabenggala Sastra Cyber

KURANG lebih selama empat tahun silam, dunia kesusastraan Indonesia mengalami perkembangan signifikan. Hal ini ditandai dengan peluncuran situs sastra nusantara (baca: sastra cyber), yakni http://www.cybersastra.net, pada 9 Mei 2001 oleh Yayasan Multimedia Sastra (Kompas, 10/5/2001).

Kelak, situs-situs sastra telah menjamur di dunia cyber. Artinya, selama itu pula paradigma kesusastraan Indonesia bercabang di mana awalnya masih bertumpu pada media massa cetak sebagai (satu-satunya) sarana ungkap talenta sastra sastrawan kita. Bisa dikatakan, sejarah kesusastraan Indonesia selama itu didominasi oleh, meminjam istilah Agus Noor, sastra koran.

Memang, tak bisa dipungkiri bahwa sastra koran memainkan peran cukup penting dalam dinamika kesusastraan Indonesia. Pun sastra koran telah melahirkan sejumlah sastrawan kenamaan. Saini KM, Linus Suryadi AG, Ajib Rosidi dan Budi Dharma, untuk menyebut beberapa contoh, adalah sastrawan hasil orbitan sastra koran di era 60-an hingga 70-an. Bahkan sejumlah sastrawan kenamaan dewasa ini, misalnya Taufiq Ismail, WS Rendra, Sutardji Calzoum Bachri, Afrizal Malna, Seno Gumira Ajidarma dan Agus R Sarjono tak lepas dari jasa sastra koran dalam melambungkan reputasi sastra mereka di dunia kesusastraan Indonesia.

Dengan adanya sastra cyber, tentu saja dunia kesusastraan Indonesia semakin semarak. Bukan berarti sastra koran terpinggirkan, akan tetapi keduanya berjalan berdampingan. Keduanya sama-sama berfungsi sebagai sarana ungkap talenta sastra. Hanya saja, yang membuatnya berbeda adalah piranti teknis dan konsumen pembaca.

Lazim diketahui, sastra koran menggunakan media massa cetak, sementara sastra cyber memanfaatkan jasa media massa digital, yaitu internet. Bagi konsumen pembaca sastra koran cakupannya terasa lebih luas menjelalah wilayah publik dan bisa dinikmati permanen sebab dicetak. Sedangkan konsumen pembaca sastra cyber terbatas pada orang-orang tertentu yang aktif mengakses internet, mengecualikan mereka yang pasif—untuk tidak menyebut gagap teknologi—internet.

Terlepas dari perbedaan format itu, yang jelas keberadaan sastra cyber memiliki sisi plus-minus yang menarik untuk dikaji, setidaknya dari perspektif sastrawan muda (pemula). Sejauh yang saya amati, sastra cyber berisikan rubrik sastra dengan kategori tertentu, umpamanya cerpen, puisi, esai sastra dan novel karya para sastrawan (terkemuka) yang bisa diakses seketika itu juga. Di sinilah kelebihan sastra cyber. Bagi sastrawan pemula, karya sastra dari berbagai kategori yang dilokalisir dalam satu media memudahkan mereka untuk segera mendokumentasikannya sebagai koleksi pribadi.

Penting diketahui, seorang sastrawan dalam menulis karya sastra kategori tertentu, cerpen misalnya, akan berbeda hasilnya dengan sastrawan lain meski menulis dalam kategori serupa. Perbedaan itu lahir selain akibat latar belakang keilmuan, juga disebabkan beragamnya kecenderungan corak dan gaya tulisan. Faktor inilah yang kemudian melahirkan banyak aliran dalam dunia kesusastraan seperti realis dan surrealis.

Tentu saja dengan mengetahui kecenderungan corak dan gaya sastra sastrawan terkemuka, sedikit banyak turut membantu sastrawan pemula dalam menginternalisasikan nilai-nilai sastra pada dirinya. Ibarat cermin, kecenderungan corak dan gaya kepenulisan sastrawan pemula akan terkonstruk dengan sendirinya. Sehingga jika konsisten mengembangkan talenta sastrawannya, kelak dapat dipastikan karya-karya sastra mereka setidaknya sebanding dengan karya sastra sastrawan sekarang.

Namun sayang, sastra cyber tidak memberlakukan proses seleksi seketat sastra koran. Sebab keterbatasan ruang publikasi, sastra koran akhirnya betul-betul mengedepankan kualitas sebuah karya sastra. Tetapi dalam sastra cyber tidak demikian. Dengan dalih luasnya ruang pemuatan, akhirnya aspek kualitas terpinggirkan. Yang menjadi tolok ukur sepertinya hanya aspek kuantitas. Akhirnya kita bisa menyaksikan berjibun-jibun karya sastra yang tampil di sastra cyber.

Karena itu, cukup beralasan sekiranya sastra cyber kerap disebut-sebut tak lebih sebagai tong sampah alias pelarian dari sastra koran. Fenomena ini sedikit banyak tak bisa dibantah kebenarannya. Bahwa, sekali lagi, terbatasnya ruang sastra koran dan tingginya kompetisi di sana, tentu mengakibatkan sempitnya peluang sebuah karya sastra, terutama dari sastrawan pemula, untuk diorbitkan. Jengah menunggu, akhirnya di tengah kreatifitas yang dirundung putus asa, sastra cyber dianggap media yang relevan untuk “membuang” karya sastranya.

Yang lebih tragis lagi, dari dokumentasi karya sastra cyber mereka memodifikasinya—dengan penambahan dan pemangkasan di sana-sini misalnya. Setelah itu mengklaimnya sebagai karya pribadi dan dikirim ke media massa cetak untuk berkompetisi di dunia sastra koran. Tak pelak, jika sungguh-sungguh terjadi, realitas ini amat memprihatinkan sebab pertumbuhan talenta sastrawan pemula ditempa dengan cara plagiasi. Ke depan, kreatifitas mereka patut dipertanyakan orisinalitasnya. Di sinilah sisi minus dari sastra cyber.

Untuk itu, media sastra cyber mesti dikelola secara matang. Orientasinya tak lain untuk menciptakan ruang alternatif bagi  lahirnya sastrawan masa depan. Langkah-langkah yang patut ditempuh adalah, pertama, memuat proses kreatif para sastrawan terkemuka. Dengan ini sastrawan pemula dapat menimba pengalaman mereka dalam usaha pergelutan meniti karir di dunia kesusastraan.

Kedua, secara intensif membangun forum diskusi sastra sebagaimana HORISON menyelenggarakan program Sastrawan Bicara Siswa Bertanya (SBSB) yang dipandu oleh sastrawan “senior” sesuai dengan spesifikasinya. Umpamanya saja D. Zawawi Imron untuk rubrik puisi dan Agus Noor untuk rubrik cerpen.

Setelah itu, ketiga, seyogyanya sastra cyber mengagendakan secara rutin lomba penulisan sastra kategori cerpen, puisi atau bahkan novel. Adanya perlombaan ini tentu akan memicu motivasi sastrawan pemula agar bersungguh-sungguh dalam menekuni dunia kesusastraan.

Sebagai wujud kongkrit memompa semangat sastrawan pemula, langkah keempat perlu ditempuh, yakni mengadakan festival sastra misalnya berbentuk sarasehan dan pentas sastra. Dalam forum inilah akan bertemu sastrawan generasi sekarang dan masa depan. Bahwa perjumpaan sinergis antar-sastrawan, apalagi dengan yang diidolakan, akan menghasilkan kekuatan dasyat bagi sastrawan pemula khususnya untuk meneguhkan keyakinan mereka dalam dunia kesusastraan.

Walhasil, bagi mereka nantinya waktu yang tersedia serasa kurang untuk dipakai sungguh-sungguh berkecimpung di dunia kesusastraan sebagaimana Chairil Anwar mengangankan keabadian, “Aku ingin hidup seribu tahun lagi”. [*]

*) Saiful Amin Ghofur, Penikmat Sastra, tinggal di Krapyak Yogyakarta.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s