Ibn Jarir Ath-Thabari

Ath-Thabari dilahirkan di Amil, ibukota Tabaristan di Persia (Iran) pada sekitar akhir tahun 224 H atau awal tahun 225 H (839 M). Nama lengkapnya Abu Ja’far Muhammad ibn Jarir ibn Yazid ibn Kasir ibn Galib ath-Thabari. Ia dikenal sebagai sosok yang rapi dan bersih dalam berpenampilan, selalu menjaga kesehatan, serta sangat disiplin.

Sepanjang hidup ath-Thabari dilewati dengan kezuhudan yang luar biasa. Ia sedikitpun tak terpengaruh pada kenikmatan dunia. Sikap ini dibuktikan dengan menolak tawaran jabatan penting di pemerintahan, juga imbalan harta yang diberikan kepadanya.

Ath-Thabari memang memilih membujang hingga akhir hayatnya. Karena itu, ia kesempatan yang sangat luas untuk mencari ilmu. Hidupnya dihabiskan untuk belajar, mengajar, dan menulis. Maka wajar jika ia sanggup menguasai berbagai disiplin ilmu, seperti sejarah, hadis, bahasa, dan sastra.

Bahkan dalam bidang fiqh, pendapat-pendapat ath-Thabari dihimpun yang kemudian dinamai mazhab Jaririyah. Ia mampu menghafal Al-Qur’an pada usia 7 tahun. Pada usia 8 tahun sudah menjafi imam salat dan menulis hadis-hadis Nabi sejak usia 9 tahun. Bahkan ia mampu menulis tiap harinya sebanyak empat puluh lembar.

Kurun hidup ath-Thabari adalah masa tatkala Islam menunjukkan periode keemasannya di panggung peradaban, yaitu periode kebangkitan masa Daulah Abbasiyah (750-1242 M) yang berpusat di Baghdad. Ketika Ath-Thabari lahir, yang menjadi penguasa saat itu adalah al-Wasiq Billah atau Harun bin Muhammad al-Mu’tasim sebagai Khalifah IX (842-847 M). Jika ditelusuri lebih jauh selama hidupnya ath-Thabari mengalami pemerintahan 10 khalifah hingga khalifah XVIII, yaitu al-Muqtadir yang berkuasa mulai tahun 908-934.

Tak Jemu Menuntut Ilmu

Pendidikan ath-Thabari dimulai dari kota kelahirannya sendiri. Lalu pada usia 12 tahun merantau ke kota Ray, sebelah utara Persia. Di sini, ia belajar hadis kepada Muhammad bin Hamid ar-Razi (w. 284 H/862 M) seorang imam besar hadis yang merupakan salah satu figur guru penting yang nantinya banyak memengaruhi kitab sejarahnya. Ia juga berguru kepada Ahmad bin Hammad ad-Daulaby seorang ulama yang terkenal ahli riwayat.

Dari kota Ray, ath-Thabari pindah ke Irak. Awalnya ia hendak menuju Baghdad untuk berguru kepada Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H/855 M). Namun ketika mendengar kabar ulama yang dituju wafat, ia beralih menuju Basrah. Di sini ia  berguru pada seorang penghafal hadis jenius, Abi Bakr Muhammad bin Basyar yang terkenal dengan nama Bundar (w. 252 H).

Setelah itu ath-Thabari ke Kufah untuk belajar ilmu hadis kepada Isma’il bin Musa al-Fazary (w. 254 H), Hannad as-Sirry ad-Darimy al-Kufy (w. 342 H), dan Abi Kuraib Muhammad ibn al-A’la al-Hamzany (w. 248 H). Untuk ilmu qira’at dipelajari dari Sulaiman bin Khallad as-Samiry (w. 261 H). Sedang kepada Isma’il bin Musa ia belajar fiqh. Khusus Mazhab asy-Syafi’i ia berguru pada al-Hasan bin Muhammad az-Za’farany. Di Bagdad ia sempat menjadi guru privat dari salah seorang putra menteri Khalifah al-Mutawakkil bernama ‘Ubayd Allah bin Yahya bin Khakan, antara tahun 244 H/858-9 M sampai dengan tahun 248 H/862 M.

Pada tahun 253 H ath-Thabari meninggalkan Irak bersama tiga temannya yang juga ahli hadis menuju Mesir. Sebelum sampai Mesir, ia singgahi beberapa kota penting dalam penyebaran hadis, seperti Syiria, Palestina, dan Beirut.  Di kota terakhir ini, ia memperdalam ilmu qira’at kepada al-Abbas bin Walid al-Bairunny. Di Mesir ia bertemu dengan sejarawan kenamaan Ibn Ishaq dan atas jasanya ath-Thabari mampu menyusun karya sejarah yang monumental, Târikh al-Umam wa al-Muluk.

ath-Thabari juga menekuni mazhab Syafi’i (mazhab yang dianutnya sebelum ia berdiri sendiri sebagai seorang mujtahid) kepada murid langsung Imam Syafi’i yaitu ar-Rabi bin Sulaiman (w. 280 H), Isma’il bin Yahya al-Muzanniy dan Yunus bin ‘Abd al-A’la (w. 264 H). Bahkan ia juga bertemu dengan Ibn Abd al-Hakam, seorang ahli madzhab Maliki dan Syafi’i.

Selama di Mesir banyak ilmuwan datang menemui ath-Thabari sambil mengujinya sehingga membuat dirinya terkenal. Dari Mesir ia kembali lagi ke Baghdad pada tahun 256 H/270 M. Sampai akhir hayatnya, ia menetap di Baghdad untuk mengajar dan menyusun kitab. Dari sana, beberapa kali ia kembali ke negeri asalnya Tabaristan.

Adapun karya intelektual ath-Thabari tidak bisa dipastikan jumlahnya. Namun jika kita mengikuti riwayat dari Khatib al-Baghdadi yang diambil dari Ali bin Ubaidillah al-Lughawi asy-Syamsi, bahwa ia aktif menulis selama empat puluh tahun dengan perkiraan setiap harinya menulis empat puluh lembar. Dengan demikian, selama empat puluh tahun ia menulis sebanyak satu juta tujuh ratus enam puluh delapan ribu lembar.

Namun sayang, tidak semua karya ath-Thabari sampai ke tangan kita. Karya-karyanya terutama tentang hukum lenyap bersamaan dengan lenyapnya madzhab Jaririyah. Beberapa kitab yang terselamatkan adalah Jâmi’ al-Bayân fî  Tafsîr Al-Qur’ân, Kitâb al-Qirâ’at wa Tanzîl Al-Qur’ân,Tahzîb al-Atâr wa Tafdîl aŝ-Ŝâbit, Ikhtilâf al-Ulamâ al-Amsâr fî Ahkâm Syarâ’i al-Islâm, al-Basîr fî Ma’âlim ad-Dîn, dan sebagainya.

Dalam bidang tafsir, karya ath-Thabari merupakan tafsir generasi pertama yang dibukukan sehingga masih utuh hingga sekarang. Hal ini tidak berarti sebelum ath-Thabari belum ada kesadaran membukukan kitab tafsir. Namun perkembangan tafsir pada saat itu sangat lamban dan terpencar-pencar. Baru pada masa pemerintahan Daulah Abbasiyah gerakan pembukuan ilmu pengetahuan, termasuk tafsir, berkembang sangat pesat.

Beberapa keterangan menyebutkan latar belakang penulisan Jâmi’ al-Bayân fî  Tafsîr Al-Qur’ân adalah karena keprihatinan ath-Thabari terhadap umat Islam dalam memahami Al-Qur’an. Mereka sekadar bisa membaca Al-Qur’an tanpa tahu makna sesungguhnya. Karena itulah, ath-Thabari menunjukkan berbagai kelebihan Al-Qur’an dengan mengungkap pelbagai makna hingga kelebihan susunan bahasanya seperi nahwu, balaghah, dan lain sebagainya. Bahkan jika ditilik dari namanya, kitab ini merupakan kumpulan keterangan (jâmi’ al-bayân) pengetahuan yang cukup luas meliputi berbagai disiplin keilmuan seperti qira’at, fiqh, dan aqidah.

*) Sumber: Saiful Amin Ghofur, Profil Para Mufasir Al-Qur’an, (Yogyakarta: Insan Madani, 2007)

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s