Hegemoni Televisi Vs Gerakan Literasi

MAYORITAS tayangan entertainment dan infotainment televisi saat ini benar-benar meresahkan dan tidak bermutu. Setelah PBNU melalui Munas alim ulama NU di Surabaya pada Agustus 2006 mengeluarkan fatwa haram terhadap serentetan tayangan infotainment dengan dalih, di antaranya, menggosip (gibah) dan menebar aib, kini giliran sinetron yang disoal.

Gerakan perlawanan itu telah ditabuh oleh tak kurang dari 200 pelajar/santri yang dipayungi IPPNU-IPNU wilayah DI Yogyakarta. Pada Sabtu (27/10) mereka menggelar “Pisowanan Pelajar dan Santri Jogja Menolak Sinetron Destruktif” di rumah Gusti Joyo, adik Sultan Hamengkubuwono X.

Dalam kesempatan itu mereka mengajukan sembilan butir pernyataan sikap. Di antaranya adalah menolak eksploitasi pelajar dan anak, aksi perusakan berkedok agama dalam sinetron, kembalikan fungsi televisi sebagai media edukasi, dan tertibkan regulasi pertelevisian yang memihak kepentingan pelajar (Kompas, 29/10).

Hegemoni Televisi

Aksi pisowanan ini sebenarnya merupakan titik kulminasi kegeraman massif terhadap tayangan entertainment. Bahwa tayangan entertainment telah jauh merasuki ruang publik, tak terkecuali usia pelajar, adalah fakta yang sulit dipungkiri. Dengan kata lain, televisi benar-benar telah menghegemoni sendi-sendi kehidupan publik.

Survei Marketing Research Indonesia (MRI) pada tahun 2001 tentang intensitas anak usia 7-14 tahun (usia pelajar SMP) dengan (tayangan entertainment) televisi menunjukkan hasil yang mencengangkan. Disebutkan, sebanyak 92 persen responden telah terbiasa menjadi penonton setia televisi. Pada hari biasa hingga Sabtu, 54 persen responden menonton televisi pada sore hari antara pukul 15.00-21.00. Kegiatan menonton televisi memuncak pada hari Minggu. Mulai pukul 7.00, 66 persen responden telah duduk manis di depan tabung ajaib itu. Rata-rata responden menghabiskan 4-5.5 jam/hari untuk menonton televisi.

Dari intensitas dengan televisi yang kuat inilah timbul dampak negatif terhadap responden. Misalnya, bersikap kasar, keras, konsumtif, hedonis, dekadensi moral, meniru tanpa seleksi, dan sebagainya. Memang tidak dinafikan dampak positifnya seperti bertambahnya wawasan pengetahuan, namun hal ini tidak sebanding dengan dampak negatif tersebut.

Aksi pisowanan sebagai bagian dari upaya melawan hegemoni televisi harus dikawal dengan tindakan nyata. Pertama, setiap orangtua mesti sadar bahwa semakin sering anak menonton televisi akan berisiko pada keringnya komunikasi antar-keduanya. Dus, nilai-nilai yang ditampilkan oleh (lebih-lebih sinetron) televisi, seperti materialisme, gampanganisme, okultisme, atau seks bebas akan mewarnai perkembangan kepribadian anak.

Oleh karena itu, seyogianya orangtua mengatur kegiatan menonton televisi anak. Juga memilihkan program-program televisi yang cocok dengan pertumbuhan kepribadian anak. Penting untuk memberikan kegiatan-kegiatan alternatif agar anak tidak “kecanduan” menonton televisi. Umpamanya dengan melibatkan anak dalam kursus-kursus yang potensial untuk mengembangkan telenta natural, dan lain sebagainya.

Betapapun, esensi televisi adalah pengetahuan. Karena itu, segala sesuatu yang berkaitan dengan televisi dapat dijadikan sebagai pengetahuan (baca: objek pendidikan), sehingga televisi mesti dikomunikasikan oleh subjek pendidikan. Dalam pengertian yang luas, subjek pendidikan tidak harus guru dan murid, tapi bisa pula anak dan orangtua. Siapapun bisa terlibat dalam proses komunikasi sebagai sebuah proses pendidikan dengan televisi sebagai objek (Carl Bambang Kukuh, 2003).

Dalam konteks inilah subjek pendidikan memilah-milah mana yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat, mana yang baik dan yang buruk, segala sesuatu dalam entitas televisi.

Gerakan Literasi

Langkah kedua untuk melawan hegemoni televisi adalah dengan membangun gerakan literasi alias mengampanyekan kegiatan membaca. Kita tahu bahwa kegiatan membaca sebenarnya tidaklah susah. Satu-satunya alasan kenapa kegiatan membaca belum begitu membudaya adalah karena faktor malas.
Tak jarang kegiatan membaca terkalahkan oleh hasrat menonton televisi. Padahal, aspek pengetahuan yang dihasilkan melalui membaca jauh lebih banyak ketimbang lewat televisi. Membaca merupakan proses pembebasan yang membawa pada pencerahan (Manneke Budiman, 2004).

Hal ini telah diresapi serta dibuktikan oleh tokoh-tokoh besar penggerak dunia. Winston Churchill pemimpin legendaris Inggris, misalnya, disegani karena kaya pengetahuan yang dihasilkan melalui membaca. Demikian juga J.F. Kennedy, Abraham Lincoln, John Quincy Adams, Soekarno, dan Gus Dur. Ketokohan dan kharisma mereka dihimpun dari setangkup pengetahuan yang terserak dalam literatur yang dibacanya.

Jika demikian, lantas siapakah yang layak mengawal gerakan literasi? Banyak elemen, baik yang dipayungi pemerintah maupun swasta yang bisa diajukan. Namun dari kesemuanya, yang relatif memenuhi kriteria adalah taman bacaan masyarakat (TBM).
Di Yogyakarta, keberadaan TBM semakin semarak tak ubahnya cendawan di musim penghujan. Di sudut-sudut kota hingga pelosok desa, TBM bukanlah fenomena langka. TBM begitu mudah dijumpai. Karena itulah, TBM sebagai entitas perubahan sosial yang cukup potensial harus diberdayakan secara optimal untuk mengawal gerakan literasi.

Menurut Yoke SH, Koordinator TBM se-Yogyakarta, TBM memerankan fungsi ganda. Selain sebagai ajang rihat alternatif dari kesuntukan aktivitas yang menguras tenaga, TBM juga menjadi media efektif untuk melakukan kontrol sosial.

Setidaknya, TBM “Paragraf 01” yang terletak di RW 1 Pakel Yogyakarta dengan jargon “Panjenengan Pinter, Kulo Remen” yang juga dikelola Yoke telah memberi teladan. Dalam meneguhkan gerakan literasi, TBM “Paragraf 01” kerap menggelar kegiatan yang membaurkan masyarakat dari berbagai lapisan umur. Misalnya, wisata buku, diskusi buku, dan menonton film dokumenter bersama. Kegiatan semacam ini jelas merupakan transformasi keilmuan secara simultan dan pada akhirnya akan memutus candu terhadap televisi.

Namun demikian, selain sinetron destruktif sejatinya masih ada tayangan televisi yang mencerdaskan sekaligus mendukung gerakan literasi. Dalam hal ini kita bisa melihat kiprah Metro TV dengan tayangan Kick Andy. Stasiun televisi ini paling getol mengampanyekan gerakan literasi dengan mengundang narasumber yang berkompeten dalam hal perbukuan dan aktivis literasi.
Jadi, untuk melawan hegemoni televisi mari kita galakkan gerakan literasi!

*) Saiful Amin Ghofur, Direktur Eksekutif Matahati Institute Yogyakarta.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s