Dalam masyarakat kita yang tradisi lisannya masih kuat, sekali lagi, penulis tidak pernah mati. Kita memang tidak menampik telah mentransfer cara berpikir Barat yang tradisi tekstualnya sudah mapan. Tapi, akar kelisanan yang begitu kuat sering menimbulkan friksi ketika sebuah buku diulas dan dibicarakan. Penulis biasanya memberi tanggapan secara emosional bila bukunya dinilai kurang berkualitas.






