Menulis Buku dengan Cinta

Dalam masyarakat kita yang masih didominasi tradisi oral, penulis lebih penting ketimbang buku yang ditulisnya. Tokoh masih saja menjadi sentra perdebatan dalam setiap teks yang diproduksinya. Maka, tak perlu heran bila dalam setiap acara bedah buku, kehadiran penulis selalu menjadi sasaran empuk kritik hingga hujatan dan makian atas pemikirannya yang membiak dan dianggap melawan arus pemikiran dominan.

Buku Biografi Kiai Pesantren

Harus diakui bahwa akar persoalan dari kerumitan pembukuan biografi kiai pesantren adalah lemahnya budaya tulis pesantren. Ini sekaligus mengamini sepenggal kegelisahan Gus Mus di atas. Sebagian besar pesantren masih menitikberatkan tradisi oral-aural, budaya bicara-dengar, dalam proses pembelajarannya. Budaya tulis masih belum mendapat tempat yang layak dalam iklim pendidikan pesantren.

Keteladanan Kiai Panutan

Nama KH. Arief Hasan bisa jadi masih asing terdengar di telinga kebanyakan. Popularitas kiai kelahiran Beratkulon, sebuah desa sebelah utara bantaran Kali Brantas Mojokerto, pada 20 Rabiul Awal 1337 H/1917 M sekaligus pendiri Pondok Pesantren Roudlotun Nasyi’in ini memang tidak semencuat sejumlah kiai sepuh NU lainnya. Namun jika menilik lebih jauh sketsa kehidupannya, akan diperoleh sebuah keteladanan yang begitu memesona.

Kearifan Mistik di Sudut Pesantren

Proses pengembaraan Fahrudin itulah yang didapuk menjadi buku berumbul Syaikh Branjang Abang ini. Di sini Fahrudin dengan gegap gempita mewartakan “sisi gelap” pesantren. Dengan tekun ia mencatat satu demi satu peristiwa aneh baik yang dialami sendiri maupun dikisahkan oleh kyai dan orang-orang linuwih yang ditemui semasa pengembaraan nan hening itu.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.