Membumikan Gerakan Adil Gender

Eksistensi perempuan Indonesia sejatinya dilindungi UU RI No. 17 tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan. Namun pada kenyataannya, dominasi kultur patriarkis masih kuat berurat-akar di masyarakat, sehingga ketimpangan gender pun serupa klise peristiwa yang terus di putar di alam nyata.

Anak dan Epidemi Naruto

Film kartun Naruto sebenarnya bukan satu-satunya tayangan anak yang patut disikapi dengan kritis. Ada sejumlah sinetron anak, misalnya Si Entong (TPI) dan Eneng dan Kaos Kaki Ajaib (RCTI), yang mengusung cerita keajaiban dan, karena itu, membonsai logika berpikir anak. Dengan serbuan cerita keajaiban, anak terdidik untuk mengangsur solusi permasalahan secara instan, tanpa perlu serius terhadap sebuah proses.

Kekerasan dan Potret Buram Pendidikan

Untuk mengantisipasi sejak dini maraknya aksi kekerasan, maka langkah pertama adalah membersihkan budaya bullying di lingkungan pendidikan, baik yang dilakukan oleh pelaku internal maupun eksternal sekolah. Peranan guru dan para orangtua sangat diperlukan.

Buku Lawan Kekerasan

Ketika anak membaca cerita fiktif tersebut, maka siapa yang sanggup menghadang imajinasi anak untuk tidak bersetubuh dengan alur cerita. Imajinasi anak akan menyusup jauh ke relung cerita. Berbaur dengan beragam konflik dan kekerasan yang bersembunyi di lekuk-lekuk halaman.

Tegar

Frustasi dan kegelisahan eksistensi inilah yang melahirkan perilaku agresif. Sebuah tipologi perilaku antagonistis yang cenderung anomalis-destruktif. Perilaku agresif bisa dipersepsikan serupa ledakan bom di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton 17 Juli lalu yang menimbulkan efek traumatis bagi masyarakat. Di sinilah teori frustasi-agresi yang ditabalkan J. Dollard dalam Frustration and Aggression (1939) menemukan relevansinya.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.