Rosihan Anwar

Selain semangat menulisnya yang tak menyurut, hal istimewa lain dari Rosihan adalah ingatannya yang kuat. Tentang ingatan itu, katanya, ”Saya sebenarnya enggak bisa menghafal nama-nama orang Jawa yang panjang-panjang. Kalau ingatan saya dinilai kuat, itu karena my mind is busy! Setiap hari saya sibuk berpikir, apa yang mau saya tulis hari ini?”

Menulis Buku dengan Cinta

Dalam masyarakat kita yang masih didominasi tradisi oral, penulis lebih penting ketimbang buku yang ditulisnya. Tokoh masih saja menjadi sentra perdebatan dalam setiap teks yang diproduksinya. Maka, tak perlu heran bila dalam setiap acara bedah buku, kehadiran penulis selalu menjadi sasaran empuk kritik hingga hujatan dan makian atas pemikirannya yang membiak dan dianggap melawan arus pemikiran dominan.

Buku Biografi Kiai Pesantren

Harus diakui bahwa akar persoalan dari kerumitan pembukuan biografi kiai pesantren adalah lemahnya budaya tulis pesantren. Ini sekaligus mengamini sepenggal kegelisahan Gus Mus di atas. Sebagian besar pesantren masih menitikberatkan tradisi oral-aural, budaya bicara-dengar, dalam proses pembelajarannya. Budaya tulis masih belum mendapat tempat yang layak dalam iklim pendidikan pesantren.

Keteladanan Kiai Panutan

Nama KH. Arief Hasan bisa jadi masih asing terdengar di telinga kebanyakan. Popularitas kiai kelahiran Beratkulon, sebuah desa sebelah utara bantaran Kali Brantas Mojokerto, pada 20 Rabiul Awal 1337 H/1917 M sekaligus pendiri Pondok Pesantren Roudlotun Nasyi’in ini memang tidak semencuat sejumlah kiai sepuh NU lainnya. Namun jika menilik lebih jauh sketsa kehidupannya, akan diperoleh sebuah keteladanan yang begitu memesona.

Berguru Kepada Lebah Madu

Lebah madu yang tergolong dalam kelas insecta (serangga) itu merupakan koloni aristrokrat yang humanis. Betapa tidak, mereka hidup dalam sebuah struktur keluarga sosial yang besar dan senantiasa bekerja berdasarkan prinsip gotong royong. Ada ratu lebah, ada lebah pejantan, ada pula lebah pekerja. Meski bentuk morfologi dan fungsi biologisnya berbeda, namun perbedaan itu justru melahirkan ritme kehidupan yang harmonis sekaligus humanis.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.