– guru, izinkan kuposting cerpenmu sebab rindu ini sekian lama membatu. dan, kau di sana tentu bergumam: gak popo, pul! aku yakin. [...] SAYA dan keluarga, biasa menyapanya dengan sebutan Mbah Wo Ethek. Tiap kali terdengar dari kejauhan suara: ethek…ethek…ethek…ethek, saya dan istri biasanya secara spontan langsung bersipandang, lalu mengucap: “Mbah Wo Ethek.”






