Menulis Buku dengan Cinta

Dalam masyarakat kita yang masih didominasi tradisi oral, penulis lebih penting ketimbang buku yang ditulisnya. Tokoh masih saja menjadi sentra perdebatan dalam setiap teks yang diproduksinya. Maka, tak perlu heran bila dalam setiap acara bedah buku, kehadiran penulis selalu menjadi sasaran empuk kritik hingga hujatan dan makian atas pemikirannya yang membiak dan dianggap melawan arus pemikiran dominan.

Buku Biografi Kiai Pesantren

Harus diakui bahwa akar persoalan dari kerumitan pembukuan biografi kiai pesantren adalah lemahnya budaya tulis pesantren. Ini sekaligus mengamini sepenggal kegelisahan Gus Mus di atas. Sebagian besar pesantren masih menitikberatkan tradisi oral-aural, budaya bicara-dengar, dalam proses pembelajarannya. Budaya tulis masih belum mendapat tempat yang layak dalam iklim pendidikan pesantren.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.